Greetings...,^.^

Welcome To My Blog..,
Its Place for me to ShAre My Experience..,
And Show you the Way to Get Happines..,
Enjoy it..,^.^

Jumat, 11 Mei 2012

Its not about Me,.but About Us


Ramadhan Kelabu Penuh Makna



        Jika hal nyata penuh makna adalah awal dari kehidupan , maka hari itu kehidupanku terasa baru dimulai. Ketika itu hari-hari akhir bulan Ramadhan. Seminggu sebelum idul fitri. Tepatnya 29 September 2007.
        “ dek…,adek, bangun dong dek, sudah adzan subuh entar kesiangan lho sholatnya. Sudah ditunggu sama mas di mushollah” . suara Nyaring itu tidak asing di telingaku. Ya..,pasti suara itu adalah suara kakak perempuanku. Segera saja aku bangun dan bersiap melaksanakan sholat subuh.
Hari-hari Bulan ramadhan tak ubahnya seperti bola dunia yang berputar, begitu cepat berganti, Begitu cepat berlalu, dan tak terasa olehku matahari tak lg bersinar terik. Cahayanya perlahan berubah menjadi samar-samar.
Sore indah kala itu dengan sinarnya yang hangat cahayanya yang merah dengan sengaja Aku nikmati. Berkeliling kota mencari hidangan nikmat untuk berbuka adalah hal yang sering Aku lakukan saat ramadhan. Nikmatnya perjalanan saat itu terasa semakin nikmat saat Aku melihat sesosok lelaki berkilau di bawah lampu hias alun-alun selatan kota Lumajang. Sosoknya yang tinggi semampai, alis tebal dengan tatapan mata yang tajam dan senyumnya yang mengarah padaku membuatku lupa kalau ini bulan Ramadhan. Tergoda Aku dibuatnya.
Alangkah kagetnya saat Aku tahu kalau lelaki itu adalah teman tak terpisahkan selama 12 tahun, sahabat kecil, sekaligus saudara sepupuku yaitu Mas Iqbal. Orang yang dulu selalu ada di sampingku , melindungiku, selalu menghibur saat aku sedih, dan  selalu mau mengalah demi Aku. Wajar rasanya jika Aku tidak mengenalinya. Maklum kami sudah jarang bertemu sejak kami tak lagi menimba ilmu ditempat yang sama. Segera saja Aku balas semyumnya dengan lambaian tangan dan tatapan mata penuh rasa kagum.
Dalam Perjalanan begitu saja teringat saat aku dan Mas iqbal pertama kali belajar bersepeda. Saat itu dia mendapatkn sepeda baru dari orang tuanya. Iri aku melihatnya, Sepeda warna ungu, mengkilat, dengan roda utama berwarna hitam, dan dua roda bantu warna putih, bentuknya elegan. Hmmm...,semakin iri dan ingin memiliki rasanya hati ini.
Tak disangka Ternyata orang tuaku menyiapkan kejutan yang sama untukku. Dengan bentuk, ukuran, dan warna yang sama persis dengan Punya Mas Iqbal. Tak lebih dari dua jam, Akhirnya aku mendapatkan sesuatu yang sama dengan kepunyaan sepupuku itu. Wah..,senangnya rasa hati.
Perjalanan soreku yang menyenangkan tak lama lagi akan usai.  Setelah mendapatkan apa yang Aku cari, terbersik dalam pikiranku akan transit dulu ke rumah nenek baru pulang ke rumah. Entah apa yang membuat ku berfikir demikian padahal saat itu hari sudah semakin sore dan sepertinya waktu berbuka sudah tidak lama lagi.
Ternyata sudah ada yang mendahului. Tidak lagi tertipu, Aku langsung dapat mengetahui kalau itu  Mas Iqbal. Sama seperti tadi, dia menyambut ku dengan ramah di depan pintu. Begitu juga ketika Aku sudah selesei menemui nenek dan akan pulang ke rumah. Dia benar-benar terlihat berbeda, semyumnya itu tidak dapat Aku lupakan hingga sekarang. “ Semoga kita bisa bersama seperti dulu lagi” ucapku dalam hati.
Jika Sang Maha Pencipta sudah berkehendak. Manusia dan makhluk manapun tidak akan kuasa menolak. Kira-kira 3 jam setelah pertemuanku dengannya yang teramat singkat itu. Dalam suatu kecelakaan dia dipanggil menghadap Allah, saat perjalanan pulang, sesaat setelah dia baru saja selesei sholat tarawih dan tadarus disekolahnya. Tak dapat tertolong lagi, Ia dinyatakan meninggal ditempat tak lama setelah penduduk setempat menolongnya.
Mendengar berita itu, seakan hati dan pikiranku tidak sejalan. Hati ku diam seakan hantaman itu terlalu keras dan Aku mati rasa. Pikiranku bergejolak semu tercampur menjadi satu. Periksa nafasnya barang kali masih ada, periksa jantungnya mungkin saja masih berdetak, periksa juga bagian tubuhnya obati jika ada yang terlukan. Pikiran-pikian itu bercampur aduk dengan rasa resah.
Satu persatu memori masa kecil yang kami habiskan bersama muncul seketika dalam fikiranku. Menyemarakkan tangisanku yang tak kunjung reda.
Mas Iqbal . Sebutan itu tak pernah tergantikan sebagai panggilan sayang untuk kakak sepupuku tercinta ”Akhmad Iqbal Ferdiansyah”. Genap 15 tahun usiamu, lahir dan dipanggil oleh Allah pada hari yang sama di Bulan Suci Ramadhan saat malam Nuzulul Qur’an, tepatnya hari Sabtu, 29 September 2007. Sepulang ibadah terawih Engkau dipanggil menghadap rabb-mu. Terlalu sebentar rasanya Aku menggenalmu. Terlalu sebentar rasanya kau menjagaku. Kini dengan siapa aku akan berbagi cerita masa kecil, dengan siapa aku harus menceritakan keluh kesahku, siapa lagi yang akan percaya dengan cerita-ceritaku, siapa lagi teman mengkhyalku, Tak ada lagi. Kau adalah orang yang tak akan pernah tergantikan dalam hidupku.
Hari itu kau tunjukkan sekali lagi pelajaran berharga padaku. Hari itu seluruh ilmu pengetahuan umat manusia menjadi setitik air di atas samudra pengetahuan Allah. Hanya itu yang dapat menggambarkan bagaimana sempurnanya Allah mengatur potongan-potongan memori hidupku dan Mas Iqbal. Allah pisahkan kami perlahan hingga tidak ada yang merasakan hal itu. Kemudian Allah pisahkan kami dengan jarak yang tak terhingga. Terpisah ruang dan waktu. Sungguh jika kita masih seperti dulu betapa susahnya aku berpisah dengan mu, Mas Iqbal.
Bahwa usia muda bukan jaminan hidup kita akan lebih lama. Fisik yang sempurna tidak cukup menggambarkan apa kita dalam keadaan sehat. Prestasi yang gemilang bukan alasan Allah untuk tidak mengakhiri hidup suatu makhluk. Lalu kenapa aku tidak seperti Mas Iqbal yang serasa selalu siap akan datangnya kematian. Dan selalu percaya bahwa kehidupan yang fana ini akan berakhir.
Kini mataku terbuka. Pandanganku kini tararah. Hatiku kini bercahaya. Fikiranku tak lagi sesempit dulu yang hanya memikirkan kehidupan dunia. Betapa muliaNYa Allah mengingatkanku .
Bukankah sejak kecil apa yang diberikan kepada Mas Iqbal tidak lama juga diberikan padaku. Lalu kapan waktuku? Pintaku padamu Allah, jika saat itu tiba berikan juga isyarat akan itu padaku, sebagai mana Engkau berikan isyarat itu pada kakak sepupuku. Dan panggilah aku dengan cara yang baik dan khusnuk khotimah.
Mas Iqbal, terimakasih atas tuladan mu yang indah mencerahkan jiwa. Menuntunku pada sesuatu yang tidak aku cari, Namun begitu merasa beruntungnya aku saat mendapatkannya. Hingga Aku merasa ramadhan tahun itu adalah Ramadhan Kelabu Penuh Makna.
Love You always Achmad Iqbal ferdiansyah

By Maulia Afidah Cahyani


Tidak ada komentar:

Posting Komentar