Ramadhan Kelabu
Penuh Makna

Jika hal nyata penuh makna adalah awal dari
kehidupan , maka hari itu kehidupanku terasa baru dimulai. Ketika itu hari-hari
akhir bulan Ramadhan. Seminggu sebelum idul fitri. Tepatnya 29 September 2007.
“ dek…,adek, bangun dong
dek, sudah adzan subuh entar kesiangan lho sholatnya. Sudah ditunggu sama mas
di mushollah” . suara Nyaring itu tidak asing di telingaku. Ya..,pasti suara
itu adalah suara kakak perempuanku. Segera saja aku bangun dan bersiap
melaksanakan sholat subuh.
Hari-hari Bulan ramadhan
tak ubahnya seperti bola dunia yang berputar, begitu cepat berganti, Begitu
cepat berlalu, dan tak terasa olehku matahari tak lg bersinar terik. Cahayanya
perlahan berubah menjadi samar-samar.
Sore
indah kala itu dengan sinarnya yang hangat cahayanya yang merah dengan sengaja Aku
nikmati. Berkeliling kota mencari hidangan nikmat untuk berbuka adalah hal yang
sering Aku lakukan saat ramadhan. Nikmatnya perjalanan saat itu terasa semakin
nikmat saat Aku melihat sesosok lelaki berkilau di bawah lampu hias alun-alun
selatan kota Lumajang. Sosoknya yang tinggi semampai, alis tebal dengan tatapan
mata yang tajam dan senyumnya yang mengarah padaku membuatku lupa kalau ini bulan
Ramadhan. Tergoda Aku dibuatnya.
Alangkah
kagetnya saat Aku tahu kalau lelaki itu adalah teman tak terpisahkan selama 12
tahun, sahabat kecil, sekaligus saudara sepupuku yaitu Mas Iqbal. Orang yang
dulu selalu ada di sampingku , melindungiku, selalu menghibur saat aku sedih,
dan selalu mau mengalah demi Aku. Wajar rasanya jika Aku tidak mengenalinya.
Maklum kami sudah jarang bertemu sejak kami tak lagi menimba ilmu ditempat yang
sama. Segera saja Aku balas semyumnya dengan lambaian tangan dan tatapan mata
penuh rasa kagum.
Dalam Perjalanan begitu saja teringat saat
aku dan Mas iqbal pertama kali belajar bersepeda. Saat itu dia mendapatkn
sepeda baru dari orang tuanya. Iri aku melihatnya, Sepeda warna ungu,
mengkilat, dengan roda utama berwarna hitam, dan dua roda bantu warna putih,
bentuknya elegan. Hmmm...,semakin iri dan ingin memiliki rasanya hati ini.
Tak disangka Ternyata orang tuaku
menyiapkan kejutan yang sama untukku. Dengan bentuk, ukuran, dan warna yang
sama persis dengan Punya Mas Iqbal. Tak lebih dari dua jam, Akhirnya aku
mendapatkan sesuatu yang sama dengan kepunyaan sepupuku itu. Wah..,senangnya
rasa hati.
Perjalanan soreku yang menyenangkan tak
lama lagi akan usai. Setelah mendapatkan
apa yang Aku cari, terbersik dalam pikiranku akan transit dulu ke rumah nenek
baru pulang ke rumah. Entah apa yang membuat ku berfikir demikian padahal saat
itu hari sudah semakin sore dan sepertinya waktu berbuka sudah tidak lama lagi.
Ternyata sudah ada yang mendahului. Tidak
lagi tertipu, Aku langsung dapat mengetahui kalau itu Mas Iqbal. Sama seperti tadi, dia menyambut ku dengan ramah
di depan pintu. Begitu juga ketika Aku sudah selesei menemui nenek dan akan
pulang ke rumah. Dia benar-benar terlihat berbeda, semyumnya itu tidak dapat Aku
lupakan hingga sekarang. “ Semoga kita bisa bersama seperti dulu lagi” ucapku dalam
hati.
Jika Sang Maha Pencipta sudah berkehendak.
Manusia dan makhluk manapun tidak akan kuasa menolak. Kira-kira 3 jam setelah
pertemuanku dengannya yang teramat singkat itu. Dalam suatu kecelakaan dia
dipanggil menghadap Allah, saat perjalanan pulang, sesaat setelah dia baru saja
selesei sholat tarawih dan tadarus disekolahnya. Tak dapat tertolong lagi, Ia
dinyatakan meninggal ditempat tak lama setelah penduduk setempat menolongnya.
Mendengar berita itu, seakan hati dan
pikiranku tidak sejalan. Hati
ku diam seakan hantaman itu terlalu keras dan Aku mati rasa. Pikiranku bergejolak
semu tercampur menjadi satu. Periksa nafasnya barang kali masih ada, periksa
jantungnya mungkin saja masih berdetak, periksa juga bagian tubuhnya obati jika
ada yang terlukan. Pikiran-pikian itu bercampur aduk dengan rasa resah.
Satu persatu memori masa kecil yang kami
habiskan bersama muncul seketika dalam fikiranku. Menyemarakkan tangisanku yang
tak kunjung reda.
Mas Iqbal . Sebutan itu tak pernah tergantikan
sebagai panggilan sayang untuk kakak sepupuku tercinta ”Akhmad Iqbal
Ferdiansyah”. Genap 15 tahun usiamu, lahir dan dipanggil oleh Allah pada hari
yang sama di Bulan Suci Ramadhan saat malam Nuzulul Qur’an, tepatnya hari
Sabtu, 29 September 2007. Sepulang ibadah terawih Engkau dipanggil menghadap
rabb-mu. Terlalu sebentar rasanya Aku menggenalmu. Terlalu sebentar rasanya kau
menjagaku. Kini dengan siapa aku akan berbagi cerita masa kecil, dengan siapa
aku harus menceritakan keluh kesahku, siapa lagi yang akan percaya dengan
cerita-ceritaku, siapa lagi teman mengkhyalku, Tak ada lagi. Kau adalah orang
yang tak akan pernah tergantikan dalam hidupku.
Hari itu kau tunjukkan sekali lagi
pelajaran berharga padaku. Hari itu seluruh ilmu pengetahuan umat manusia
menjadi setitik air di atas samudra pengetahuan Allah. Hanya itu yang dapat
menggambarkan bagaimana sempurnanya Allah mengatur potongan-potongan memori
hidupku dan Mas Iqbal. Allah pisahkan kami perlahan hingga tidak ada yang
merasakan hal itu. Kemudian Allah pisahkan kami dengan jarak yang tak terhingga.
Terpisah ruang dan waktu. Sungguh jika kita masih seperti dulu betapa susahnya
aku berpisah dengan mu, Mas Iqbal.
Bahwa usia muda bukan jaminan hidup kita
akan lebih lama. Fisik yang sempurna tidak cukup menggambarkan apa kita dalam
keadaan sehat. Prestasi yang gemilang bukan alasan Allah untuk tidak mengakhiri
hidup suatu makhluk. Lalu kenapa aku tidak seperti Mas Iqbal yang serasa selalu
siap akan datangnya kematian. Dan selalu percaya bahwa kehidupan yang fana ini
akan berakhir.
Kini mataku terbuka. Pandanganku kini
tararah. Hatiku kini bercahaya. Fikiranku tak lagi sesempit dulu yang hanya memikirkan
kehidupan dunia. Betapa muliaNYa Allah mengingatkanku .
Bukankah sejak kecil apa yang diberikan kepada
Mas Iqbal tidak lama juga diberikan padaku. Lalu kapan waktuku? Pintaku padamu
Allah, jika saat itu tiba berikan juga isyarat akan itu padaku, sebagai mana
Engkau berikan isyarat itu pada kakak sepupuku. Dan panggilah aku dengan cara
yang baik dan khusnuk khotimah.
Mas Iqbal, terimakasih atas tuladan mu
yang indah mencerahkan jiwa. Menuntunku pada sesuatu yang tidak aku cari, Namun
begitu merasa beruntungnya aku saat mendapatkannya. Hingga Aku merasa ramadhan
tahun itu adalah Ramadhan Kelabu Penuh Makna.
Love You always
Achmad Iqbal ferdiansyah
By Maulia Afidah Cahyani